Hari Sabtu kemarin, saya baru saja melakukan perjalanan lintas negara satu hari, demi mendapatkan ijin formal untuk dapat tinggal di Thailand satu bulan kedepan.
Saya sudah merencanakan untuk melakukan
Visa Run sejak sebulan yang lalu.
Bagi yang belum mengetahui istilah Visa Run, saya akan menjelaskan dahulu. Visa Run adalah salah satu cara mendapatkan visa turis dengan cara melakukan perjalanan ke luar negara yang dimaksud kemudian beberapa jam kemudian masuk lagi ke negara tersebut. Dalam konteks saya pribadi, Visa Run merupakan salah satu alternatif instan dan relatif murah dibandingkan harus kembali ke Indonesia (perjalanan bolak-balik minimal 24 jam, biaya > 3jt).Visa saya akan habis tanggal 14 Nov 2008, sedangkan kontrak saya di Thailand habis tanggal 28 November 2008. Karena itulah, saya berpikir tanggung untuk balik pada tanggal tersebut ke Indonesia hanya untuk balik lagi dan mendapatkan visa turis agar dapat menetap satu bulan ke depan (meskipun hanya akan digunakan 2 minggu saja). Saat itu, saya teringat pernah membaca artikel mengenai mendapatkan visa dari perbatasan Thailand dengan Cambodia dan Myanmar, dan mendapatkan istilah visa run dari hasil membaca itu. Setelah dipikir-pikir, menarik juga opsi ini, karena disamping saya akan mendapatkan visa hanya dalam jangka waktu satu hari, saya juga bisa sekalian jalan2 ke negara lain.
Saya kemudian memikirkan, bagaimana caranya melakukan visa run. Apa angkutan umum yang harus saya naiki ke perbatasan? Apa yang harus saya lakukan di perbatasan nanti? dan sejumlah pertanyaan lain. Karena itulah, mbah Google langsung menjadi pilihan saya. Dari mbah Google, saya mengetahui ternyata ada perusahaan yang menyediakan jasa Visa Run. Saya cukup membawa diri (dan kelengkapan dokumen tentunya), membayar jasa All-In, duduk dengan baik, dan mengikuti prosedur yang diinstruksikan.
Aha.. sepertinya OK juga tuh. Menjawab semua pertanyaan kompleks untuk tingkat pemula dalam melakukan perjalanan sendiri, dan menghapus kemungkinan resiko yang dapat terjadi yang sudah terngiang2 di kepala. Website perusahaan penyedia visa run tersebut adalah
Sawasdee Transport. Ketika mendapatkan bahwa namanya adalah Sawasdee, saya teringat
penginapan murah meriah namun strategis di sekitar pantai Pattaya dengan rate mulai 200 ribu rupiah per malam, ditambah lagi di posisi pencarian mbah Google saat itu, dia menempati posisi halaman pertama. Karena itu saya sudah yakin sekali dan membookmarknya.
Awal minggu lalu, saya menceritakan rencana saya ke Tisna. Dia memberitahukan bahwa ada iklan Visa Run di Bangkok Post yang sering dibacanya secara rutin setiap hari di Loby apartment. Saat ditunjukkan olehnya Jumat pagi, dan ternyata harganya cukup masuk akal (2,200 Baht atau sekitar 700rb), jam keberangkatannya juga sejak dinihari jam 05:00 AM-13:30 PM, dan karena mampu memasang iklan di harian selevel Bangkok Post, tentunya tidak main-main dong. Langsung saja saya foto iklannya dan saya catat nomor telponnya. Nama perusahaannya adalah Jack Golf, saya mempelajari detil dan prosedur dari
websitenya, ternyata lebih simple dari Sawasdee. Saya cukup menyediakan satu foto (dibandingkan Sawasdee harus 2 foto, berangkat jam 07:00-16:00, dan sejumlah prosedur tambahan lain). Karena sudah merasa sreg, saya langsung telpon ke nomor yang ada di iklan di sela-sela kesibukan pekerjaan kantor untuk menanyakan lebih detil mengenai tempat dan waktu keberangkatan. Setelah yakin, saya melakukan booking saat itu juga. Booked (someone from Indonesia without phone number and unclear name, thats easy). Saya diminta datang paling lambat jam 04:30 AM (kepikirannya sih untuk urusan administrasi, namun tidak saya konfirm, saya "Iya" kan saja).
Malam harinya saya mempelajari sedikit mengenai rute. Perbatasan yang akan dikunjungi ada 2 kemungkinan, yaitu:
- Aranyaprathet - Poipet, jarak 250 km dari bangkok. Sering disebut sebagai kota kasino.
- Ban Leam - Daung, jarak 300 km dari bangkok. Ada VIP lounge Jack's House.
Malam harinya saya [ke]tidur[an] cepat, jam 9 pm teng (tidak seperti biasa, apalagi malam sabtu, bisa bergadang gak jelas). Saya sempat terbangun dan melihat jam [seperti] jam 4 pagi. Ya Allah, terlambatlah daku. Gagal deh rencana hari ini. Ya sudah, besok saja deh, trus buka2 laptop, dan tanpa sengaja melihat jam baru jam 11:xx pm. Alhamdulillah.. ternyata tadi salah lihat, jarum Alarm di angka 4 dikira jarum penunjuk jam. Yo wis, setelah liat2 laptop sebentar (yang akhirnya sebentar2 dikumpulkan jadi 2.5 jam, hehe), menyiapkan sandang dan pangan untuk perjalanan besok, set alarm jam dan alarm handphone, trus tidur.
Dibangunkan oleh dering alarm jam. Ternyata sudah jam 4:10 AM. gawat, telat deh, gimana dong. Gak mandi dong (hehe, ini mah dah diniatin dari kemarin). Gak sarapan dong, nanti laper (udah tenang aja, mudah2an 7Eleven di dekat sana buka). Telat banget nih, lom bwt ganti baju, jalan ke depan bwt cari taxi (udah, bergerak aja, kerjain yg bisa dikerjain.. siap grak). Akhirnya dengan jurus kelelawar, saya persiapkan semuanya, dan berangkat. Eh, ada yg kurang, ternyata kacamata. Ini sempet bikin hati tambah kalut, karena butuh waktu 10 menit untuk menemukannya, dan perenungan mengenai pentingnya menjaga emosi dalam menghadapi situasi genting seperti ini. Akhirnya, 4:30 AM saya ke loby. Alhamdulillah, ada taxi stand-by. Sukhumvit Soi
sip song please. "OK". Meluncurlah kita.
Akhirnya sampai juga Sukhumvit Soi 12, setelah sebelumnya pak Taxi gak yakin dengan yang saya sebutkan "sip song" (sok ngelatih bahasa Thai) yang akhirnya saya jelaskan dengan bahasa tarzan dengan menggunakan jari tangan (no problemo, yg penting kan tujuan tercapai) yang dapat dipahami.
Saya turun dari taxi dan membayar 60 baht, langsung disambut "passport please". Karena tampak masih gak mudeng, dia bilang sekali lagi. Oh.. ok ok. Passport + 1 pas foto. Lalu disodori sejumlah lembar kertas yang ditandai untuk diisi alamat dan 4 tanda tangan (untuk surat kedatangan, keberangkatan, pengajuan visa). Setelah itu belanja deh di 7Eleven yang sepertinya saya menebak dia sengaja buka pagi karena pasti ada konsumen yang ingin mengikuti Visa Run setiap pagi jam 05:00 AM. Bis rombongan 2 tingkat juga sudah menunggu di sisi kiri jalan raya Sukhumvit yang lengang (biasanya sangat padat alias macet total pada siang dan malam hari karena jalan ini adalah salah satu golden area).
Jam 5 teng, sang pemandu memperkenalkan diri dan menjelaskan prosedur yang harus kami lakukan. Beberapa penjelasan yang saya ingat antara lain:
- Kita akan ke perbatasan Aranyaprathet, Poipet.
- Perkiraan sampai di sana jam 8 pagi.
- Sesampainya di sana, kami diminta untuk tetap mengikuti pemandu.
- Kita diminta berbaris di loket imigrasi. Untuk yang overstay berbaris di sebelah kiri, yang tidak overstay di sebelah kanan. Karena saya tidak overstay, saya set dalam pikiran saya "kanan..kanan..".
- Disana kita akan menuju suatu hotel dan sarapan. Setelah itu kami diminta menunggu hingga jam 10 pagi.
- Jam 10 kembali lagi ke Bangkok.
- Dalam perjalanan pulang, kita akan beristirahat di sebuah tempat selama 15 menit.
- Perkiraan sampai di bangkok jam 13:30.
Berikut ini peta bangkok dan Aranyaprathet.

Seperti yang saya jelaskan sebelumnya, bahwa perjalanan kali adalah dari Bangkok ke Aranyaprathet, Poipet. Kedua kota tersebut dapat dilihat di peta.
Perjalanan pagi itu begitu cepat, karena saya tidur di bis hingga jam 7:30. Setengah jam terakhir saya mencoba menikmati perjalanan. Di kiri dan kanan hanya terdapat sawah dan perkebunan yang terbentang luas. Sesekali terdapat rumah. Jadi teringat seperti perjalanan ke kampung halaman orang tua saya di Purworejo, Jawa Tengah. Sekitar 15 menit menjelang perbatasan baru terdapat banyak rumah dan jalan bercabang.

Sesampainya disana, kami mengikut pemandu untuk berjalan dari tempat parkir bus ke imigrasi perbatasan. Perbatasan tersebut ternyata seperti pasar, banyak sekali orang membawa barang dagangan menggunakan gerobak yang ditarik oleh manusia. Bahkan antrian gerobag bisa mencapai puluhan gerobak. Setelah melewati gerbang imigrasi, tampak gerbang selamat datang di Cambodia seperti terlihat pada gambar.
Lalu perjalanan kaki dilanjutkan ke salah satu hotel di sana. Di tempat itu, kami segera diarahkan ke buffet untuk sarapan. Seperti biasa, saya melakukan survey makanan terlebih dahulu untuk menentukan apa yang bisa dan layak saya makan, yang halal tentunya, atau paling tidak kemungkinan besar halal. Akhirnya saya makan telur bebek rebus dan cereal + susu, ditambah ayam barbeque yang saya beli di 7Eleven di Sukhumvit.
Setelah puas menyantap sarapan secukupnya, saya sekilas menonton dragon ball dahulu. Bezita sedang bertarung dengan Cell yang gemuk dan lucu. Jadi teringat masa kecil dulu yang terbius oleh serial dragon ball ini dan siap mengorbankan apa saja agar waktu pagi hari tidak terganggu dengan kegiatan lain untuk menyaksikan film made in Jepun ini.
Setelah puas menonton dragon ball, saya diajak ke lobby oleh pemandu untuk menunggu hingga jam 9:40. Lalu kami turun ke lantai bawah. Saya memutuskan tidak jadi ke loby, tapi melihat2 sekeliling yang diisi dengan mesin-mesin judi dan hall tengah untuk kasino. Sudah agak ramai di sana pagi itu, sekitar 200an orang bermain judi. Saya hanya berputar-putar, sesekali mengamati dengan seksama pola permainan mereka, meskipun saya gak mudeng sama sekali. Setelah puas mengamati, saya ke loby saja, ke luar hotel melihat orang-orang yang sibuk melintas perbatasan membawa gerobak. Jam 9 saya ditegur petugas hotel karena duduk di sisi patung singa jadi-jadian di depan pintu hotel. Dengan bahasa setengah isyarat, saya memahami apa yang dia maksud. Akhirnya saya pindah saja ke loby, menikmati sisa waktu di sana sambil membaca buku Hernowo yang saya bawa dari Bangkok.
Jam 10:00 waktu Phnom Penh kami balik, jalan ke tempat parkir bus, melewati gerbang imigrasi yang sudah sangat kenal akrab dengan para petugas Jack Golf sehingga hampir tidak ada masalah apa-apa. Saya sempatkan mengambil beberapa foto termasuk foto di gerbang di atas yang sebenarnya saya ambil ketika pulang, karena saya merasa rugi kalo jalan2 gak ada bukti untuk ditaruh di blog, hehe.
Di perjalanan pulang, saya tidak tidur sama sekali karena diputarkan film Gold Fools yang sebenarnya sudah pernah saya tonton. Film tersebut menceritakan tentang perburuan harta karun yang dirahasiakan oleh kapten yang selamat dalam kecelakaan kapal laut pembawa hadiah oleh-oleh untuk ratu Spanyol...dst..dst...
Kami berhenti 15 menit di suatu tempat yang saya tidak tahu namanya. Namun tempat itu sejarak 30 menit dari Bangkok, sudah mendekati sampai. Saya membeli buah yang saya pikir cukup unik, namun setelah saya buka itu adalah Sirsak versi Thai yang kecil mungil dan tidak asam sama sekali. Agak kecewa karena harganya cukup mahal, 2 buah 70 baht (22 rb). Lalu kami melanjutkan perjalanan ke Bangkok. Alhamdulillah, kami sampai dalam keadaan baik sekitar jam 15:00, saya turun di Asok Sukhumvit untuk melanjutkan dengan Taxi Meter.
Itulas sepenggal kisah "Visa Run" saya. Yang saya kagumi adalah omzet sekali perjalanan. Hari itu semua tempat duduk terisi penuh, ada sekitar 40-an. Total omzet = 40x2,200 = 88,000 baht, atau sekitar
Rp.28,000,000 sehari. Setiap hari mereka melayani perjalanan, artinya seminggu 7x, dan setahun 365x (ini bukan nilai pasti, karena kadang mereka tidak melakukannya ketika liburan resmi). Cukup menggiurkan kan...
Semoga bermanfaat.
Salam FUNtastics,
Noverino Rifai
Visit
Resource seputar Islam