November 21st, 2008 by Rahadian Bayu
Posting kali ini sengaja dibuat dalam bahasa Indonesia untuk menghindari kalo ada orang2 eropa yg tersinggung gara2 baca postingan ini. Walaupun ada kemungkinan mereka niat banget copy seluruh postingan ini buat diterjemahin si translator seperti Google language tool semoga saja mereka tak serajin itu :D Sepeti judulnya, kali ini saya coba bandingkan apa yang saya alami di Ronneby dibandingkan apa yg saya alami dulu di Bozano.

Meskipun kurang lebih sudah saya setahun di benua dingin ini tapi culture shock masih ada ketika masa2 awal tiba di Ronneby. hmm, mungkin lebih tepatnya bukan culture shock karena dgn culturenya sih more less sama. Mungkin lebih tepat kalau geographical shock.

Ronneby jauh lebih kecil dibandingkan Bolzano. Wilayah Swedia pada umumnya meskipun luas tetapi tidak banyak penghuninya menyebabkan jarang menemui keramaian apalagi di kota yang bernama Ronneby ini. Sama seperti shock ketika di Bolzano lama2 jadi dibetah2in di Ronneby. Sisi baiknya sih gak ada kemacetan dan kebisingan. Kota ini bener2 tenang buat belajar dan istirahat. Sisi buruknya adalah ketika belanja dimana mesti jalan ke kota yg cukup agak lama sekitar 15-20 menit yg kalau PP jadinya 30-40 menit. Mungkin lebih karena perjalanan pulang makan waktu lebih lama karena jalanan nanjak dan bawa belanjaan yg bisanya bikin ransel overload.

Kenapa overload? jawabannya sudah dijelaskan tadi. Karena ke kotanya jauh dan gak ada angkutan jadi mesti jalan kaki. Karena kotanya jauh jadi kalau cuaca sedang ngambek, perjalanan ke kota jadi cukup mengerikan. jadi belanjapun tidak bisa sesering ketika di Bolzano dulu. Belanja disini maksud saya adalah buat kebutuhan sehari2 seperti beras, sayur dan lauk-pauk. Sedangkan untuk belanja yg lain ditunda sampe bener2 butuh supaya banyak uang buat jalan2 dan keperluan lainnya :D

Suhu dan cuaca jadi momok buruk. Ada teman orang Swedia yg bahkan menyatakan kalau pulang malam yg ditakutkan adalah tidak ada angkutan sehingga mesti berjuang melawan suhu minus sampe ada angkutan lagi kesokan harinya. Di Bolzano juga dingin tetapi tidak ada angin yg kenceng dan karena asrama dan univnya di kota jadi tidak jauh kemana-mana.

Satu lagi yg mencolok Ronneby adalah susahnya mendapatkan bumbu2 asia. satu-satunya toko yg menjual bumbu asia adalah toko arab yg bumbu2nya tidak begitu "menggigit". jadinya mesti kuat makan berhambar-hambar ria di Ronneby. Atau kalo lagi gak beruntung masakannya terlalu asin. Bolzano cukup banyak toko2 yg menjual bumbu asia selatan dan ada satu toko yg menjual lengkap barang2 dari asia timur bahkan termasuk the legendary Indomie :D

Mengenai sesuatu yg berhubungan dengan kampus dan kuliah disini cukup berbeda dgn Bolzano karena cuma 4 mata kuliah tiap semester. Satu semester dibagi menjadi 2 learning period @ 2 bulan. Pembagian 1 semester menjadi 2 LP ini yg bikin seolah-olah kuliah disini padat. Karena tugas-tugas selalu ada tiap bulan. Beda dengan ketika di Bolzano dimana satu semester untuk 7-8 mata kuliah dan tidak dibagi menjadi learning period dimana semua kesibukan dan kehebohan adalah di akhir semester, menjelang dan ketika ujian. gak kebayang kalau di Bolzano juga diperlakukan learning period.

Perpustakaan di Ronneby atau BTH pada umumnya sangat bagus secara virtual. Maksudnya mereka punya koleksi ebook yg saya belum pernah cek apakah cukup lengkap atau tidak, tetapi koleksi journal dan database yg sangat sangat lengkap. Mencari paper dan artikel menjadi lebih mudah. Di Bolzano setahu saya masih kurang lengkap untuk sarana dan prasarana virtual ini. Tetapi perpustakaan di Bolzano ruangannya sangat nyaman dan tenang untuk belajar. Sedangkan disini perpustakaannya cenderung berisik. At least yg di Ronneby.

Akomodasi disini cukup bagus. Ada heating yg siap terus2an nyala. Suatu kemewahan yg tidak bisa dirasakan ketika di Bolzano dulu kecuali ketika di kampus. Kemewahan lain yg didapat adalah kebebasan dimana bisa lebih manusiawi dimana diperbolehkan membawa teman masuk pada saat suhu diluar sedang dingin. Sisi manusiawi yg saya dengar di asrama di Bolzano susah sangat dikurangi dengan peraturan. Sisi baik asrama di Bolzano adalah jaraknya yg sangat dekat kampus sehingga bisa sering pulang untuk sholat atau makan. Juga kehadiran cleaning lady yg cukup membantu terutama bagi saya yg malas bersih-bersih kamar.

Sisi buruk akomodasi disini adalah semua furniture mesti disediakan sendiri. Hal ini sudah saya coba penuhi dengan melobi sana sini supaya mau memberikan furniturenya ke saya walapaun beberapa furniture yg kata pemiliknya cukup bagus telah lenyap tak berbekas meskipun udah diberi label nama.

Demikian laporan perbadingan sampai saaat ini. ngantuk. tiiduur....
Leave comment in original page
 
November 20th, 2008 by I Nyoman Winardi Ribeka (Wordpress)

Benarkah Indonesia adalah negara yang miskin? Ato yang miskin itu hanya segelintir orang - orang yang tidak beruntung bisa dekat dengan kekuasaan saja? Ato malah sebaliknya yang kaya hanya segelintir orang - orang yang dekat dengan kekuasaan, orang - orang yang rela menipu orang lain yang berprofesi jadi pengirim tenaga kerja ke luar negeri?

Pertanyaan ini tiba - tiba terbersit di pikiran saya saat membaca salah satu forum di internet yang menyebut masalah 3 mobil ferrari di sebuah parkiran dan mobil mewah lainnya yang juga berada di parkiran yang sama. Kalo diambil perbandingan dengan orang disini, untuk membeli sebuah ferrari mungkin harus puasa selama beberapa tahun. Itupun dengan asumsi gaji orang disini pada kisaran 60k per tahun on average. Lalu bagaimana dengan di Indonesia? Dengan gaji saya bekerja jadi SE, sampe saya pensiun pun saya ga bakalan bisa beli ferrari itu … Mantap dah.

Sebuah besar kalo manurut saya seh. Pulau dewata yang sekecil itu memiliki kejomplangan yang amat sangat besar sekali dalam hal kesejahteraan. Disatu sisi dari pulau mungil ini orang - orangnya masih memikirkan masalah kekeringan dan sulitnya mendapatkan air bersih. Sementara di sisi yang lain, orang - orangnya siap menghambur - hamburkan berjuta - juta uangnya hanya untuk kesenangan sesaat. Entah akan menuju kemana nantinya pulau mungil yang sangat saya cintai itu.

Posted in Personal   Tagged: Bali, Ferrari   
Leave comment in original page
 
November 19th, 2008 by admin
Selamat datang di WordPress. Ini adalah tulisan pertama Anda. Sunting atau hapus, kemudian mulai blogging!
Leave comment in original page
 
November 18th, 2008 by Noverino Rifai
Pernah gak sih kita melakukan suatu pekerjaan, lalu tiba-tiba ada orang lain yang mengklaim pekerjaan tersebut? Kalau hal tersebut terjadi, kira-kira apa reaksi kita?

Hal tersebut menjadi salah satu hal yang saya pikirkan malam tadi. Jawabannya tergantung kepada apa motivasi kita melakukan pekerjaan tersebut.

Ketika motivasinya adalah ingin dilihat menghasilkan sesuatu oleh atasan atas usaha sendiri, tentu efeknya adalah "dongkol" yang berkepanjangan, bahkan kalau sudah terlalu sering terjadi, akan terjadi penolakan dan usaha untuk memperjuangkan sesuatu yang semestinya adalah hak kita.

Ketika motivasinya adalah ingin dipuji oleh atasan, "dongkol" nya kuadrat, dan usaha penolakan dan perjuangan hak lebih cepat berbanding eksponensial dibandingkan opsi pertama.

Yang ke-3, ketika motivasinya adalah Ibadah, dengan keyakinan bahwa apa yang kita kerjakan hanya mengharapkan balasan dari Allah SWT. Nah, ini dia yang paling mulia. Tapi bagi saya, sebagai manusia alakadarnya, kadang agak sulit secara murni menerapkan hal ini. Karena bekerja adalah urusan dunia dan akhirat, saya merasa tentu perlu follow-up secara duniawi dalam menghadapi hal tersebut.

Setelah saya pikirkan masak-masak, saya merasa mengambil tindakan duniawi kadang diperlukan bergantung pada konteks kejadian, namun niat harus diluruskan. Maksudnya, jangan jadikan niatnya adalah ingin dipuji oleh atasan atau ingin dilihat bekerja oleh atasan, namun akan lebih baik niatnya adalah untuk mengharapkan keridhoan-Nya. Perlu juga melihat lebih dalam alasan dibalik orang lain melakukan hal tersebut, apakah karena sengaja, atau karena ketidaktahuan dia, atau karena dia terbiasa melakukan itu dan menganggap hal tersebut tidak merugikan orang lain.

Memang terasa sekali perbedaan dalam level ke"dongkol"an hati, ketika niat dalam hati diluruskan pada sesuatu yang Mutlak manfaatnya. Pikiran dan hati menjadi lebih jernih, tenang, dan tidak menguras energi. Insya Allah.

Semoga bermanfaat.

Salam FUNtastics,

Noverino Rifai

Visit IslamResource
This is Noverinos Article Footer.
Leave comment in original page
 
November 18th, 2008 by Noverino Rifai
Berdasarkan kalender Gregorian, saya dilahirkan 26 tahun yang lalu. Berdasarkan kalender Hijriah, saya cek di converter, saya dilahirkan pada hari Kamis, 2 Safar 1403 H (hari ini adalah Selasa, 20 Zulka'idah 1429 H). Pagi ini Alhamdulillah seperti pagi yang lain, permulaan untuk menjalani hidup yang lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Bedanya, matahari baru saja menampakkan cahaya, tapi sudah membela-belain membuat tulisan ini. Secara kodrat, perjalanan waktu yang sudah dijalani itu memang tidak terasa, berlalu begitu saja tanpa bisa dihentikan.

Melalui tulisan ini, saya ingin mengingatkan kepada diri sendiri untuk mensyukuri nikmat waktu yang telah diberikan oleh Allah SWT, karena nikmat ini merupakan salah satu nikmat dasar bagi manusia, disamping nikmat Iman dan Kesehatan.

Karena karakteristik waktu secara default seperti itu dan tidak bisa diubah, yang bisa kita ubah adalah kualitas dalam mengisi waktu itu. Kalau dibuat persamaan sederhana:
Q = ∑(q . t)
dimana
Q: Kualitas Hidup
q: kualitas sesaat pada waktu tertentu
t: waktu yang dijalani
Sehingga Kualitas Hidup kita adalah totalitas dari kualitas sesaat pada suatu waktu di sepanjang hidup kita.

Yang menjadi tinjauan sekarang adalah, seperti apakah hidup yang berkualitas? Untuk yang satu ini, jawabannya bisa beragam, bergantung kepada bagaimana diri kita memandang apa tujuan kita dalam hidup ini, apa pencapaian yang ingin diraih, dan apa yang kita anggap perlu untuk dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut.

Seperti halnya ketika kita dihadapkan pada suatu suatu aplikasi baru yang harus kita kuasai. Hal pertama yang mungkin kita lakukan adalah membaca file "baca aku", lalu kita mencari menu "pertolongan", atau "tutorial" cara menggunakan aplikasi tersebut. Memang tidak harus seperti itu, kita bisa saja langsung mencoba-coba, mengklik sana-sini. Teknik coba-coba mungkin dapat diterapkan pada aplikasi yang diinstal di lingkungan non-operasional dan non-critical. Bagaimana jika aplikasi yang kita akses tersebut berada pada lingkungan critical, dimana kalau salah menekan satu tombol saja, data perusahaan selama 10 tahun dapat hilang lenyap tak bersisa. Atau ketika kita salah mengoperasionalkan, akan terjadi self-destructing process, atau yang kita jalankan adalah resetting process yang menyebabkan pekerjaan harus diulang dari awal. Pada kondisi demikian, tentunya lebih baik menginvestasikan waktu untuk bertanya kepada yang ahli, atau mengikuti training mengenai aplikasi itu, atau dengan membaca readme/tutorial/guideline/help yang disertakan pada aplikasi tersebut.

Jadi, begitu juga dengan hidup ini. Pada awalnya kita tidak tahu sebenarnya apa tujuan kita hidup ini. Banyak sekali representasi mengenai tujuan hidup, apalagi kalau sudah dimasukkan pandangan pribadi, pandangan orang lain, dan terlebih gawat lagi adanya intervensi pandangan makhluk lain (baca: bukan alien) yang punya misi jahat namun punya sistem merketing yang teruji. Semakin kita yakin mengenai tujuan hidup ini, tanpa (baca: sedikit) melihat readme/tutorial/guideline/help hidup, semakin kita harus mempertanyakan, benarkah pandangan kita mengenai tujuan tersebut, dan benarkah cara kita untuk mencapai tujuan tersebut. Apakah tujuan tersebut benar-benar sebagai tujuan yang kita kejar, atau hanya pembenaran kehidupan kita yang kalau diperhatikan dengan seksama mungkin hanya 1% saja yang menuju ke sana, 99% ternyata mengarah ke hal lain. Satu hal yang perlu kita waspadai, bahwa manusia merupakan target marketing makhluk lain yang saya sebutkan sebelumnya. Sebagaimana tayangan berita dunia yang dapat memutarbalikkan fakta, yang benar dikatakan salah (baca:teroris), dan yang jahat di blow-up sebagai pahlawan (kesiangan), dan masyarakat dunia mayoritas meng"amin"i propaganda mereka. Teknik marketing makhluk lain itu jauh lebih dahsyat dari itu. Jadi waspadalah!!!

Di momen perulangan tanggal kelahiran Gregorian seperti ini, saya cuma ingin mengambil hikmahnya saja, sambil merenungkan apa yang sudah saya jalani dan apa yang akan saya jalani. Tidak ingin larut dalam hal-hal yang kurang bermanfaat, karena secara hati kecil, ko rasanya hidup yang dijalani masih jauh dari optimal. Masih banyak target hidup yang masih ingin diraih. Kadang bertanya-tanya, apa bener tujuan hidup sampai saat ini sudah berada di jalan yang benar, ataukah ini hanya fatamorgana. Wallaahu'alam.

Semoga bermanfaat.

Salam FUNtastics,

Noverino Rifai

Visit Link Resource Islam
This is Noverinos Article Footer.
Leave comment in original page
 
November 17th, 2008 by Raiza Mahardika Nurmasanto

​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​
Remembering summer vacation, now that it’s way over.

Pompeii ruins, near Naples, Italy

Pompeii ruins, near Naples, Italy, 12 July, 2008

Effects by Poladroid

Leave comment in original page
 
November 15th, 2008 by Muhammad "Udin" Shalahuddin & Rosa Ariani Sukamto

Pernah menonton TV ada orang Jepang umurnya hingga 100 tahun lebih tapi masih sehat. Ketika ditanya dia mengatakan setiap hari meminum jus buah hijau yang ternyata adalah pare. So ini ada percobaan resep yang bagiku lumayan enak walaupun rasa pahitnya masih ada sedikit, tapi itulah tantangan pare, pahitnya yang membuat pengen nambah terus. Dalam resep ini, rasa pahit pare dibantu dinetralisir dengan terong sehingga tidak terlalu pahit.

Bumbu:
Bawang merah iris tipis (6 siung ukuran sedang)
Bawang putih iris tipis (2 siung ukuran sedang)
Cabe hijau iris tipis (1 buah)
ebi/udang rebon/ikan teri/ikan peda secukupnya
Daun salam 2 sampai 3 lembar
garam dan gula secukupnya

p1010439k

Bahan:
Terong 4 buah
Pare 3 buah

Tumis Pare dan Terong

Tumis Pare dan Terong

Cara Memasak:
Bersihkan pare dengan membuang isinya, kemudian iris tipis, lalu rendam dengan air garam dan diremas-remas sampai warna pare berubah transparan.

Cuci pare sambil diremas-remas, ganti terus air sampai air cucian tidak berwarna hijau (agar pare tidak terlalu pahit), lalu buang air pare.

Potong kecil-kecil terong lalu goreng sampai matang (jika ingin terong masih manis, jangan terlalu matang tapi jika tidak merata maka akan ada yang belum matang).

Masukkan semua bumbu, tumis sampai berbau harum, lalu masukkan pare.

Tumis sampai pare berubah warna sedikit pucat.

Rasa pahit pare akan bisa tidak terasa jika pare dimasak hingga berubah warna menjadi agak coklat mudah, tapi jika terlalu matang maka zat-zat yang bermanfaat di dalam pare akan hilang.

Semoga bermanfaat.

      
Leave comment in original page
 
November 14th, 2008 by Muhammad "Udin" Shalahuddin & Rosa Ariani Sukamto

p1010428k

Setiap pagi di hari kerja aku harus nyiapin bekal buat dibawa anakku sekolah (baca: di daycare atau penitipan anak). Anakku usianya hampir 2 tahun. Kami sering menyebutkan sekolah kepada anak kami, jadi kalau ibunya harus kerja atau kuliah anak kami pagi-pagi sudah “didoktrin” “ayo sekolah”. Mungkin ini bisa jadi referensi percobaan resep masakan untuk balita, karena anak kami sangat suka. Durasi masaknya tidak lama, sekitar 30 menit sampai 1 jam.
menggambar)

Diza tatamba (baca: menggambar)

Bumbu:
bawang putih cincang sekitar 6 siung ukuran sedang
bawang merah iris tipis (porsi bawang putih dua kali bawang merah)
ebi/udang rebon secukupnya
saos tomat sedikit
merica bubuk secukupnya
Tumis Pasta Sederhana

Tumis Pasta Sederhana

 Bahan:
Wortel secukupnya
kentang secukupnya
kol secukupnya
daun bawang secukupnya
ayam setengah kilo
pasta spiral secukupnya (bisa diganti bila suka)
garam dan gula secukupnya

Cara Memasak:
Tumis semua bumbu hingga harum (jangan sampai gosong), lalu masukkan ayam tumis hingga ayam berubah warna (jika ayam dengan kulitnya maka sebaiknya minyak ayamnya diuapkan hingga tersisa tidak terlalu banyak, karena kadar kolesterolnya tinggi).

Masukkan wortel dan kentang tumis sebentar lalu masukkan air.

Begitu mendidih masukkan kol dan daun bawang.

Tunggu hingga wortel agak empuk, masukkan pasta spiral agar pasta spiral tidak terlalu matang (al dente kata orang italia). Jangan lupa memasukkan garam, gula, dan saos tomat jika suka.

Tunggu hingga pasta spiral al dente (rasanya kenyal dan tidak terlalu lembek, untuk tau apakah sudah al dente, bisa dicoba pastanya).

Semoga bermanfaat.

      
Leave comment in original page
 
November 14th, 2008 by Agust "Guzand" Andy Pranoto

Ini bukan kisah tentang nyanyian (kicauan) burung yang kita dengarkan di pagi hari (emang masih ada burung yang berkicau di pagi hari di kota ini?). Tapi ini kisah tentang pemutar audio (musik) yang bernama SongBird. Mungkin sampean-sampean sudah familiar dengan program ini, tapi kalo saya masih baru dengan si SongBird ini. Paling tidak saya masih gumun dengan fitur-fitur yang ditawarkan.

Player ini memosisikan diri sebagai saingan berat si iTunes. Kenapa? Karna dia bisa jalan-jalan di OSX, di samping berjalan di Linux dan WindBlows. Plus, mendukung plugin yang berbasis pada Firefox (Skin juga dianggap sebagai plugin). Saya suka pada plugin lirik dan wikipedia. Jadi ketika suatu lagu dimainkan maka si SongBird langsung mencari lirik lagu tersebut sekaligus mencari informasi tentang penyanyinya melalui wikipedia. Very-very handy.

songbird

Dibandingkan dengan iTunes ternyata tidak semua fitur (saat ini) iTunes dimiliki si SongBird. Misalnya fitur sound check, uncheck selection, konversi ke format lain, dsb.

 

Glossary
Gumun=Terpukau.
Sampean=Anda.

Posted in Komputer, Musik   Tagged: iTunes, MP3 Player, Music Player, SongBird   
Leave comment in original page
 
November 13th, 2008 by Muhammad "Udin" Shalahuddin & Rosa Ariani Sukamto

Banyak orang gak bisa melakukan seperti judul di atas. Susah sekali meminta maaf, tapi gampang nyalahin orang itu yang sering he…he…he. Ya bagi kami judul di atas penting untuk hidup, dan bukan merupakan hal yang gampang tapi harus diperjuangkan untuk dilakukan.

      
Leave comment in original page
 
November 13th, 2008 by Muhammad "Udin" Shalahuddin & Rosa Ariani Sukamto

logo4

Sebenarnya kenapa diberi nama Gangsir, supaya tidak spesifik mengacu pada sesuatu jadi isinya bisa macem-macem. Keinginan kami mengisi gangsir dengan penawaran properti, ilmu-ilmu mengenai teknologi informasi yang kami kuasai untuk dibagi, bisa dari tugas-tugas kuliah sampai tugas akhir dan tesis. Bahkan kami juga ingin mempunyai forum di Gangsir.com untuk berbagi ilmu dan diskusi.

Tapi sampai sekarang semuanya masih belum bisa berjalan sesuai keinginan karena kami belum ada waktu. Jika ingin berdiskusi dapat meninggalkan komentar pada blog ini, atau kirim email ke kami. Semoga Gangsir.com akan bermanfaat bagi banyak orang.

So don’t be cruel to Gangsir.com. Kami minta maaf jika ada yang tidak berkenan.

      
Leave comment in original page
 
November 13th, 2008 by Muhammad "Udin" Shalahuddin & Rosa Ariani Sukamto

Nampang sama Gitarkoe

Nampang sama Gitarkoe

Waktu pertama menjalani semester pas S1, IP ku 2,56 waktu itu kaget sekali, mikirnya “huaaaaaaaaa, aku di sini gak bisa dapat IP 3″. Lalu pas tingkat 2 aku semakin gak pd, minder abis, sampe kalau jalan sering kayak orang cari duit jatuh. Gak tau kenapa minder, yang jelas aku kesulitan adaptasi di ITB dengan banyak orang-orang berduit, otak encer, dan mungkin sedikit arogan dan keras kepala [padahal aku juga keras kepala he...he...he...he, buktinya gak mau ngalah dengan keadaan untuk adaptasi]. IP tingkat 2 semester satu 1,97, IP semester dua 1,67. Kacau sekali aku waktu itu, Struktur data dapat E ha…ha…ha…ha gara-gara aku putus asa jadinya gak ikut UAS. Mata kuliah pemrograman yang tingkat 2 semuanya aku ngulang he…he..he…he.

Tapi siapa yang menyangka kalau di tingkat 3 semeter satu IP-ku 3,2 semester dua IP-ku 3,4 karena aku patah hati dengan hubungan gak jelas efeknya IP jadi naik he…he…he….he. Tingkat 4 semester satu IP-ku 4.00 dan semester dua 3,85. So belum tentu orang yang tadinya kelihatan gak berdaya itu gak worthed.

So, jangan pernah ngeremehin orang, bisa jadi suatu hari nanti, dia lebih worthed dibanding kita karena “safe by the bell”.

      
Leave comment in original page
 
November 13th, 2008 by Muhammad "Udin" Shalahuddin & Rosa Ariani Sukamto

Tugas IF5166 Keamanan Informasi Lanjut

23507024 – Rosa Ariani Sukamto

Attachment di dalam email disimpan dalam bentuk uunicode yang dengan menggunakan PHP bisa menggunakan fungsi base64_encode(). berikut kode HTML untuk tampilan awal [indexemailhtml atau kode]

 

berikut adalah tampilan awal:

email1

 

file gambar yang dijadikan attachment adalah sebagai berikut:

lotus.jpg

lotus.jpg

Hasil dari emailphp atau kode berikut adalah bentuk teks email dengan attachment  [hasilemail atau disini] yang merupakan bentuk dari attachment yang dikirimkan ke jaringan.

[kode dibantu dari blog dan sudah dimodifikasi sedikit. Terima kasih ya]

 Ada cara kedua, yaitu mengirim email ke alamat email yang tidak ada dengan menggunakan Yahoo maka kita akan mendapat email balikan dari yahoo dengan subjek “failure notice” dari  MAILER-DAEMON@yahoo.com,  isi dari email ini mengandung attachment yang sudah diubah ke uunicode.

      
Leave comment in original page
 
November 13th, 2008 by Muhammad "Udin" Shalahuddin & Rosa Ariani Sukamto

p1010379k

 

Dulu aku pernah membantu seseorang menyelesaikan tesisnya. Ada kalanya saat itu bagiku berat, karena aku juga sedang memegang beberapa proyek. Saat itu sebenarnya awalnya kami tidak berniat membantu teman kami ini, tapi ketika bertemu orangnya, kami memutuskan untuk membantu (dah sering melamun di jalan, membahayakan, dan susah senyum). Masalahnya dia sudah hampir DO karena batas waktu kuliahnya dah 3 tahun, masalahnya bukan hanya itu, dia harus mengganti biaya beasiswanya jika kena DO yang nilainya puluhan juta.

Saat itu tesisnya mengenai information retrieval. Saat ini dalam batas tesis ku yang tinggal 3 minggu-an harus sampe analisis dan perancangan, aku sangat butuh ilmu dari tesis temanku itu (karena baru ganti pembimbing seminggu kemarin dan ganti topik). Sekarang beruntung sekali dulu aku membantu temanku itu. Berguna sekali.

Sering kita tidak menghargai hal-hal kecil yang diberikan kepada kita, atau bahkan tidak menghargai kontribusi orang lain ke kita. Misal sering orang teknis tidak menghargai orang manajemen, padahal tanpa manajemen yang baik, orang teknis tidak akan bertahan lama. Misal ketika tukang cuci kita sakit seminggu gak masuk, kita seharusnya sadar bertapa pentingnya tukang cuci, tapi seringnya malah jadi marah begitu tukang cucinya masuk.

Well, semua orang butuh dihargai. Dan tidakseorangpun punya hak sombong dan arogan.

      
Leave comment in original page
 
November 11th, 2008 by Muhammad "Udin" Shalahuddin & Rosa Ariani Sukamto

Dulu waktu masih bujang (ceileee) mikirnya pasangan yang ideal adalah seorang yang punya badan bagus, tinggi dan dadanya bidang, cowok banget yang cool jadi bisa bikin penasaran, rambutnya lurus agak gondrong, kulitnya sawo matang, bisa main alat musik (dulu aku sering bilang cowok gak bisa main gitar tuh bukan cowok :D).

Tapi begitu kita menikah, kita gak butuh semua itu. Kebayang kalo punya suami cool, setiap hari kita ngomong gak pernah diperhatiin, coooooooollllllllll terus, bisa gila kita jadi istrinya ha ha ha ha……. Ternyata yang dibutuhkan adalah soulmate, pasangan jiwa dimana jiwa kita bisa menyatu gak peduli tampang kurang maco, kulit gak sawo matang, gak bisa main gitar (suamiku gak bisa bedain nada G dan C he he he he….) semuanya hanyalah tinggal idealis. Soal tampang juga, kalo orangnya nyebelin, seganteng Brad Pit sekalipun kita bisa jadi eneg ngeliatnya tiap hari. So tinggal pilih soulmate dengan segala kekurangannya atau idealis gak penting.

      
Leave comment in original page
 
November 10th, 2008 by Muhammad "Udin" Shalahuddin & Rosa Ariani Sukamto

Bagus kata-kata ini, kudengar dari seorang veteran yang diwawancai di TV pas Hari Pahlawan 10 November ini. Yup menurutku hidup memang harus diperjuangkan bukan hanya dijalani, tapi harus tahu kapan harus pasrah. Agar hidup kita yang sekali ini bisa berguna untuk banyak orang. So gak bagus cuman mengeluh tanpa berusaha. Setidaknya kita tidak akan pernah menyesal dalam hidup karena tidak berusaha.

      
Leave comment in original page
 
November 10th, 2008 by Muhammad "Udin" Shalahuddin & Rosa Ariani Sukamto

Sabtu minggu kemarin bolak-balik ke Jalan Ganesha buat nukerin CD Oracle 10g atau bahkan beli baru karena pas diinstal gak beres [maklum cd bajakan he he he he]. Terpaksa sih habis ada proyek yang harus terintegrasi dengan Oracle 10g kalau beli license mah gak sebanding dengan bayaran proyeknya [itulah Indonesia].

Ternyata ngeliat beberapa orang yang menawarkan naik kuda dengan dokar atau dengan kudanya langsung. Lalu anakku yang usianya baru mau 2 tahun dah nunjuk-nunjuk minta naik. Akhirnya demi anak, selama 7 tahun aku di Bandung belum pernah naik kuda di jalan Ganesha akhirnya naik dokar. Hari sabtu harganya 10 rebu 1 putaran kecil. Lalu anakku aku paksa turun untuk pulang. Eh dalam perjalanan sampai rumah masih ribut minta naik kutak (baca: kuda).

Minggunya balik lagi karena CD-nya tetep gak beres. Begitu liat kuda, langsung anakku minta naik kuda lagi. Tarifnya 15 rebu untuk sekali putaran besar. Setelah putaran pertama anakku minta lagi. Ok lah kasihan, toh orang tuanya jungkir balik cari duit juga buat siapa, akhirnya nambah 1 kali putaran lagi. Begitu putaran kedua, anakku nangis minta lagi gak mau turun. Akhirnya dipaksa juga turun. Yang lucu tuh tampang Bapak kusirnya yang senyum-senyum berharap aku bakal nambah putaran lagi sambil memperlambat jalan dokarnya meninggalkan kami. Alhasil anakku demo sampek rumah minta naik kuda dan sepanjang perjalanan nangis keras sambil nendang-nendang Bapaknya [anakku duduk di tengah]. Susahnya jadi orang tua, pengen anaknya seneng malah jadi nangis :(.

      
Leave comment in original page
 
November 9th, 2008 by Agust "Guzand" Andy Pranoto

Engineer merupakan makhluk yang presisi. Setiap lorong kehidupannya penuh detail uraian serpihan pikirannya. Tapi kadang malah lupa dengan yang esensial. Seperti halnya yang terjadi di Jumat sore itu. Selepas shalat asyar, manusia itu langsung murmuring melafalkan wirid yang biasa ia baca sehabis shalat fardlu. Setelah itu dia langsung berdoa dengan khidmad (karena dia tahu kalau saat itu adalah saat yang mustajab, saat terkabulnya doa). Lantunan doa-doa itu adalah:

Ya Allah, saya butuh W380i. Bentuknya flip, ada kameranya, bisa muter lagu, bisa GPRS dan bisa basa jawa sehingga saya bisa ngejalanin shMessenger, biar saya tetap bisa YM-an di sana-sini. Sebenarnya sih saya pengen yang W980i, tapi kayaknya kemahalan. Jadi ya W380i saja sudah cukup. Saya sudah “marem” kok. Toh “simbak itu” juga pake W380i.

Ya Allah, saya butuh istri baru! Sampean kan tahu, saya belum punya istri sama sekali. Satu istri dulu juga cukup. Speknya se muslimah, berpenampilan menarik, menguasai .NET atau J2EE, diutamakan yang memiliki sertifikasi CCNA atau Oracle. Eh maaf, ketuker sama lowongan programmer di kantor saya.

Ya Allah, saya butuh lolos test S2 nih. Nggak enak sama si bos kalo sampai nggak lolos. “Isin aku rek”. Sampean kan tau juga kalo si bos sudah bela-belain “ngasih” uang buat pendaftaran.

Ya Allah, saya pengen punya rumah pohon seperti yang di New York Times itu lho. Nggak papa lah kalo saya nanti dipanggil tarsan, yang penting saya bisa nangkring di atas pohon itu sambil coding dan mendengarkan simbak Mariah Carey melantunkan lagu Bye Bye. Sesekali nyeruput teh anget atau kopi hitam dingin.

Nampaknya engineer ini kelupaan pada satu permintaan terpenting, yaitu minta diampuni dosa-dosanya.

*) Tidak ada hubungannya dengan film “Doa Yang Mengancam” yang diperankan oleh Aming. P

Posted in Satire, Soliloquy      
Leave comment in original page
 
November 9th, 2008 by Noverino Rifai
Hari Sabtu kemarin, saya baru saja melakukan perjalanan lintas negara satu hari, demi mendapatkan ijin formal untuk dapat tinggal di Thailand satu bulan kedepan.

Saya sudah merencanakan untuk melakukan Visa Run sejak sebulan yang lalu.
Bagi yang belum mengetahui istilah Visa Run, saya akan menjelaskan dahulu. Visa Run adalah salah satu cara mendapatkan visa turis dengan cara melakukan perjalanan ke luar negara yang dimaksud kemudian beberapa jam kemudian masuk lagi ke negara tersebut. Dalam konteks saya pribadi, Visa Run merupakan salah satu alternatif instan dan relatif murah dibandingkan harus kembali ke Indonesia (perjalanan bolak-balik minimal 24 jam, biaya > 3jt).

Visa saya akan habis tanggal 14 Nov 2008, sedangkan kontrak saya di Thailand habis tanggal 28 November 2008. Karena itulah, saya berpikir tanggung untuk balik pada tanggal tersebut ke Indonesia hanya untuk balik lagi dan mendapatkan visa turis agar dapat menetap satu bulan ke depan (meskipun hanya akan digunakan 2 minggu saja). Saat itu, saya teringat pernah membaca artikel mengenai mendapatkan visa dari perbatasan Thailand dengan Cambodia dan Myanmar, dan mendapatkan istilah visa run dari hasil membaca itu. Setelah dipikir-pikir, menarik juga opsi ini, karena disamping saya akan mendapatkan visa hanya dalam jangka waktu satu hari, saya juga bisa sekalian jalan2 ke negara lain.

Saya kemudian memikirkan, bagaimana caranya melakukan visa run. Apa angkutan umum yang harus saya naiki ke perbatasan? Apa yang harus saya lakukan di perbatasan nanti? dan sejumlah pertanyaan lain. Karena itulah, mbah Google langsung menjadi pilihan saya. Dari mbah Google, saya mengetahui ternyata ada perusahaan yang menyediakan jasa Visa Run. Saya cukup membawa diri (dan kelengkapan dokumen tentunya), membayar jasa All-In, duduk dengan baik, dan mengikuti prosedur yang diinstruksikan.

Aha.. sepertinya OK juga tuh. Menjawab semua pertanyaan kompleks untuk tingkat pemula dalam melakukan perjalanan sendiri, dan menghapus kemungkinan resiko yang dapat terjadi yang sudah terngiang2 di kepala. Website perusahaan penyedia visa run tersebut adalah Sawasdee Transport. Ketika mendapatkan bahwa namanya adalah Sawasdee, saya teringat penginapan murah meriah namun strategis di sekitar pantai Pattaya dengan rate mulai 200 ribu rupiah per malam, ditambah lagi di posisi pencarian mbah Google saat itu, dia menempati posisi halaman pertama. Karena itu saya sudah yakin sekali dan membookmarknya.

Awal minggu lalu, saya menceritakan rencana saya ke Tisna. Dia memberitahukan bahwa ada iklan Visa Run di Bangkok Post yang sering dibacanya secara rutin setiap hari di Loby apartment. Saat ditunjukkan olehnya Jumat pagi, dan ternyata harganya cukup masuk akal (2,200 Baht atau sekitar 700rb), jam keberangkatannya juga sejak dinihari jam 05:00 AM-13:30 PM, dan karena mampu memasang iklan di harian selevel Bangkok Post, tentunya tidak main-main dong. Langsung saja saya foto iklannya dan saya catat nomor telponnya. Nama perusahaannya adalah Jack Golf, saya mempelajari detil dan prosedur dari websitenya, ternyata lebih simple dari Sawasdee. Saya cukup menyediakan satu foto (dibandingkan Sawasdee harus 2 foto, berangkat jam 07:00-16:00, dan sejumlah prosedur tambahan lain). Karena sudah merasa sreg, saya langsung telpon ke nomor yang ada di iklan di sela-sela kesibukan pekerjaan kantor untuk menanyakan lebih detil mengenai tempat dan waktu keberangkatan. Setelah yakin, saya melakukan booking saat itu juga. Booked (someone from Indonesia without phone number and unclear name, thats easy). Saya diminta datang paling lambat jam 04:30 AM (kepikirannya sih untuk urusan administrasi, namun tidak saya konfirm, saya "Iya" kan saja).

Malam harinya saya mempelajari sedikit mengenai rute. Perbatasan yang akan dikunjungi ada 2 kemungkinan, yaitu:
  • Aranyaprathet - Poipet, jarak 250 km dari bangkok. Sering disebut sebagai kota kasino.
  • Ban Leam - Daung, jarak 300 km dari bangkok. Ada VIP lounge Jack's House.
Malam harinya saya [ke]tidur[an] cepat, jam 9 pm teng (tidak seperti biasa, apalagi malam sabtu, bisa bergadang gak jelas). Saya sempat terbangun dan melihat jam [seperti] jam 4 pagi. Ya Allah, terlambatlah daku. Gagal deh rencana hari ini. Ya sudah, besok saja deh, trus buka2 laptop, dan tanpa sengaja melihat jam baru jam 11:xx pm. Alhamdulillah.. ternyata tadi salah lihat, jarum Alarm di angka 4 dikira jarum penunjuk jam. Yo wis, setelah liat2 laptop sebentar (yang akhirnya sebentar2 dikumpulkan jadi 2.5 jam, hehe), menyiapkan sandang dan pangan untuk perjalanan besok, set alarm jam dan alarm handphone, trus tidur.

Dibangunkan oleh dering alarm jam. Ternyata sudah jam 4:10 AM. gawat, telat deh, gimana dong. Gak mandi dong (hehe, ini mah dah diniatin dari kemarin). Gak sarapan dong, nanti laper (udah tenang aja, mudah2an 7Eleven di dekat sana buka). Telat banget nih, lom bwt ganti baju, jalan ke depan bwt cari taxi (udah, bergerak aja, kerjain yg bisa dikerjain.. siap grak). Akhirnya dengan jurus kelelawar, saya persiapkan semuanya, dan berangkat. Eh, ada yg kurang, ternyata kacamata. Ini sempet bikin hati tambah kalut, karena butuh waktu 10 menit untuk menemukannya, dan perenungan mengenai pentingnya menjaga emosi dalam menghadapi situasi genting seperti ini. Akhirnya, 4:30 AM saya ke loby. Alhamdulillah, ada taxi stand-by. Sukhumvit Soi sip song please. "OK". Meluncurlah kita.

Akhirnya sampai juga Sukhumvit Soi 12, setelah sebelumnya pak Taxi gak yakin dengan yang saya sebutkan "sip song" (sok ngelatih bahasa Thai) yang akhirnya saya jelaskan dengan bahasa tarzan dengan menggunakan jari tangan (no problemo, yg penting kan tujuan tercapai) yang dapat dipahami.

Saya turun dari taxi dan membayar 60 baht, langsung disambut "passport please". Karena tampak masih gak mudeng, dia bilang sekali lagi. Oh.. ok ok. Passport + 1 pas foto. Lalu disodori sejumlah lembar kertas yang ditandai untuk diisi alamat dan 4 tanda tangan (untuk surat kedatangan, keberangkatan, pengajuan visa). Setelah itu belanja deh di 7Eleven yang sepertinya saya menebak dia sengaja buka pagi karena pasti ada konsumen yang ingin mengikuti Visa Run setiap pagi jam 05:00 AM. Bis rombongan 2 tingkat juga sudah menunggu di sisi kiri jalan raya Sukhumvit yang lengang (biasanya sangat padat alias macet total pada siang dan malam hari karena jalan ini adalah salah satu golden area).

Jam 5 teng, sang pemandu memperkenalkan diri dan menjelaskan prosedur yang harus kami lakukan. Beberapa penjelasan yang saya ingat antara lain:
  • Kita akan ke perbatasan Aranyaprathet, Poipet.
  • Perkiraan sampai di sana jam 8 pagi.
  • Sesampainya di sana, kami diminta untuk tetap mengikuti pemandu.
  • Kita diminta berbaris di loket imigrasi. Untuk yang overstay berbaris di sebelah kiri, yang tidak overstay di sebelah kanan. Karena saya tidak overstay, saya set dalam pikiran saya "kanan..kanan..".
  • Disana kita akan menuju suatu hotel dan sarapan. Setelah itu kami diminta menunggu hingga jam 10 pagi.
  • Jam 10 kembali lagi ke Bangkok.
  • Dalam perjalanan pulang, kita akan beristirahat di sebuah tempat selama 15 menit.
  • Perkiraan sampai di bangkok jam 13:30.
Berikut ini peta bangkok dan Aranyaprathet.

Seperti yang saya jelaskan sebelumnya, bahwa perjalanan kali adalah dari Bangkok ke Aranyaprathet, Poipet. Kedua kota tersebut dapat dilihat di peta.

Perjalanan pagi itu begitu cepat, karena saya tidur di bis hingga jam 7:30. Setengah jam terakhir saya mencoba menikmati perjalanan. Di kiri dan kanan hanya terdapat sawah dan perkebunan yang terbentang luas. Sesekali terdapat rumah. Jadi teringat seperti perjalanan ke kampung halaman orang tua saya di Purworejo, Jawa Tengah. Sekitar 15 menit menjelang perbatasan baru terdapat banyak rumah dan jalan bercabang.

Sesampainya disana, kami mengikut pemandu untuk berjalan dari tempat parkir bus ke imigrasi perbatasan. Perbatasan tersebut ternyata seperti pasar, banyak sekali orang membawa barang dagangan menggunakan gerobak yang ditarik oleh manusia. Bahkan antrian gerobag bisa mencapai puluhan gerobak. Setelah melewati gerbang imigrasi, tampak gerbang selamat datang di Cambodia seperti terlihat pada gambar.

Lalu perjalanan kaki dilanjutkan ke salah satu hotel di sana. Di tempat itu, kami segera diarahkan ke buffet untuk sarapan. Seperti biasa, saya melakukan survey makanan terlebih dahulu untuk menentukan apa yang bisa dan layak saya makan, yang halal tentunya, atau paling tidak kemungkinan besar halal. Akhirnya saya makan telur bebek rebus dan cereal + susu, ditambah ayam barbeque yang saya beli di 7Eleven di Sukhumvit.

Setelah puas menyantap sarapan secukupnya, saya sekilas menonton dragon ball dahulu. Bezita sedang bertarung dengan Cell yang gemuk dan lucu. Jadi teringat masa kecil dulu yang terbius oleh serial dragon ball ini dan siap mengorbankan apa saja agar waktu pagi hari tidak terganggu dengan kegiatan lain untuk menyaksikan film made in Jepun ini.

Setelah puas menonton dragon ball, saya diajak ke lobby oleh pemandu untuk menunggu hingga jam 9:40. Lalu kami turun ke lantai bawah. Saya memutuskan tidak jadi ke loby, tapi melihat2 sekeliling yang diisi dengan mesin-mesin judi dan hall tengah untuk kasino. Sudah agak ramai di sana pagi itu, sekitar 200an orang bermain judi. Saya hanya berputar-putar, sesekali mengamati dengan seksama pola permainan mereka, meskipun saya gak mudeng sama sekali. Setelah puas mengamati, saya ke loby saja, ke luar hotel melihat orang-orang yang sibuk melintas perbatasan membawa gerobak. Jam 9 saya ditegur petugas hotel karena duduk di sisi patung singa jadi-jadian di depan pintu hotel. Dengan bahasa setengah isyarat, saya memahami apa yang dia maksud. Akhirnya saya pindah saja ke loby, menikmati sisa waktu di sana sambil membaca buku Hernowo yang saya bawa dari Bangkok.

Jam 10:00 waktu Phnom Penh kami balik, jalan ke tempat parkir bus, melewati gerbang imigrasi yang sudah sangat kenal akrab dengan para petugas Jack Golf sehingga hampir tidak ada masalah apa-apa. Saya sempatkan mengambil beberapa foto termasuk foto di gerbang di atas yang sebenarnya saya ambil ketika pulang, karena saya merasa rugi kalo jalan2 gak ada bukti untuk ditaruh di blog, hehe.

Di perjalanan pulang, saya tidak tidur sama sekali karena diputarkan film Gold Fools yang sebenarnya sudah pernah saya tonton. Film tersebut menceritakan tentang perburuan harta karun yang dirahasiakan oleh kapten yang selamat dalam kecelakaan kapal laut pembawa hadiah oleh-oleh untuk ratu Spanyol...dst..dst...

Kami berhenti 15 menit di suatu tempat yang saya tidak tahu namanya. Namun tempat itu sejarak 30 menit dari Bangkok, sudah mendekati sampai. Saya membeli buah yang saya pikir cukup unik, namun setelah saya buka itu adalah Sirsak versi Thai yang kecil mungil dan tidak asam sama sekali. Agak kecewa karena harganya cukup mahal, 2 buah 70 baht (22 rb). Lalu kami melanjutkan perjalanan ke Bangkok. Alhamdulillah, kami sampai dalam keadaan baik sekitar jam 15:00, saya turun di Asok Sukhumvit untuk melanjutkan dengan Taxi Meter.

Itulas sepenggal kisah "Visa Run" saya. Yang saya kagumi adalah omzet sekali perjalanan. Hari itu semua tempat duduk terisi penuh, ada sekitar 40-an. Total omzet = 40x2,200 = 88,000 baht, atau sekitar Rp.28,000,000 sehari. Setiap hari mereka melayani perjalanan, artinya seminggu 7x, dan setahun 365x (ini bukan nilai pasti, karena kadang mereka tidak melakukannya ketika liburan resmi). Cukup menggiurkan kan...

Semoga bermanfaat.

Salam FUNtastics,

Noverino Rifai

Visit Resource seputar Islam
Leave comment in original page
 
November 9th, 2008 by Noverino Rifai
Hari Senin kemarin, saya kebetulan sedang merasa semangat sekali dalam menjalankan tugas di kantor. Sebenarnya hal tersebut sudah biasa sih, karena saya berusaha untuk menikmati segala tugas yang harus dilakukan, suka atau tidak suka, cocok atau tidak cocok, yaitu dengan mengambil hikmah kebaikan (baca:manfaat) dari segala kegiatan yang dilakukan.

Yang membedakan adalah, sore harinya, saya memikirkan mengapa ya kadang kita semangat melakukan sesuatu, kadang biasa saja atau tidak berkesan, dan kadang juga tidak semangat. Sambil merenungkan "mengapa..mengapa..eh mengapa..", alam bawah sadar saya mengatakan "itu karena kamu melakukannya dengan hati senang..", "itu karena melibatkan aktivitas motorik, disamping aktivitas intelektual".

Setelah saya merenungkan lagi, benar juga. Karena saya itu sejak dulu di tahap belajar, senang sekali belajar sambil berjalan-jalan kecil, diucapkan dengan lantang kalau materinya rumit, mendengarkan musik ringan, dan diimajinasikan. Sepertinya itu sudah menjadi kebutuhan jika ingin belajar. Sehingga, ketika saya dihadapkan pada kegiatan belajar yang hanya membaca saja, saya mudah sekali ngantuk, padahal sudah saya niatkan untuk belajar sungguh2. Perasaan bosan dan lelah sangat mudah menghampiri ketika saya hanya duduk menatap laptop membaca materi-materi atau bahan yang berhubungan dengan pekerjaan. Sepertinya otak saya menolak aktivitas monoton seperti itu.

Pemikiran tadi menyadarkan saya bahwasanya sepertinya alam sadar saya memiliki ekspektasi lebih yang harus saya lakukan ketika saya sedang belajar atau bekerja. Alam bawah sadar saya mengharapkan saya mengkombinasikan antara aktivitas Somatis (gerakan), Auditori, Visual, dan Intelektual (SAVI). Istilah ini pertama kali saya temukan di buku Bu Slim dan Pak Bil "membincangkan Pendidikan di Masa Depan: Ihwal Life Skills, Portofolio, Konstruktivisme, dan Kompetensi" hasil buah karya Hernowo "Guru Bahasa dan Sastra Indonesia". Buku ini merupakan serial dari beberapa buku Bu Slim dan Pak Bil. Di buku tersebut juga disebutkan bahwa metode SAVI ini berasal dari Dave Meier yang menulis buku The Accelerated Learning Handbook.

Di buku karya Hernowo tersebut, dia mencoba menjelaskan dengan cara ringan dan mudah dicerna bahwa dalam belajar, kita harus menggali potensi dan cara belajar yang paling cocok untuk kita. Karena setiap orang itu memiliki potensi yang jika kompetensi tersebut dikombinasikan, jadilah ia individu yang unik dibandingkan individu yang lain. Ada orang yang cepat tanggap hanya dengan membaca, ada juga yang kalau belum melakukannya sulit untuk memahami, ada juga yang cepat tanggap dengan hanya mendengar saja, dan ada juga yang perlu meresapi, membayangkan, dan mengkait-kaitkan dengan ilmu yang didapat sebelumnya untuk dapat memahami suatu pengetahuan baru. Karena itu, idealnya, pendidikan di Indonesia mengakomodasi keempat aktivitas tersebut dalam belajar sehingga setiap peserta didik dapat mengambil manfaat sesuai dengan metode yang cocok dengan karakter atau bawaan dirinya.

Dengan menerapkan SAVI, tidak hanya satu jalur saraf yang diaktifkan ketika mendapatkan ilmu baru, namun akan terbentuk sejumlah kombinasi jalur saraf yang menyebabkan kita lebih mudah untuk mengingat kembali ilmu tersebut, bahkan mengasimilasikan menjadi pengetahuan atau penciptaan sebagai hasil kombinasi ilmu baru tersebut dengan ilmu yang kita miliki sebelumnya.

Marilah kita mejadi orang-orang yang cerdas, yaitu orang yang mampu memecahkan masalah, dan mampu menciptakan dan berkarya dengan ilmu yang kita miliki sehingga memberi manfaat bagi semesta alam.

Semoga bermanfaat.

Salam FUNtastics,

Noverino Rifai

Visit Resource seputar Islam
Leave comment in original page